pilihan makanan

sains di balik mengapa kita memilih junk food saat sedang stres

overconfidence bias
I

Bayangkan hari Jumat sore yang melelahkan. Tenggat waktu pekerjaan menumpuk, atasan baru saja mengirim rentetan pesan revisi, dan di luar sana jalanan macet total. Pernahkah kita sadari, apa yang otak kita teriakkan saat momen genting itu terjadi? "Saya butuh brokoli rebus sekarang juga!" Tentu saja tidak. Saat kepala rasanya mau pecah, otak kita biasanya berteriak meminta es kopi susu yang sangat manis, mi instan porsi ganda, atau ayam goreng tepung yang kulitnya renyah. Mengapa saat kita sedang tertekan, kita seolah kehilangan akal sehat dan selalu berbelok mencari junk food? Mari kita bedah misteri ini bersama-sama.

II

Untuk menjawabnya, kita harus mundur jauh ke masa lalu. Ribuan tahun yang lalu, leluhur kita tidak pernah stres karena cicilan KPR atau memikirkan omongan tetangga. Stres bagi mereka wujudnya sangat fisik dan nyata: dikejar harimau purba atau menghadapi musim dingin panjang tanpa cadangan makanan. Saat ancaman ini datang, tubuh kita merespons dengan mengaktifkan sistem alarm yang disebut fight or flight. Kelenjar di atas ginjal kita langsung memompa hormon stres bernama kortisol. Hormon ini pintar sekali. Ia memerintahkan tubuh untuk segera mencari energi instan, yang padat, dan cepat diserap. Tujuannya cuma satu: agar kita punya bahan bakar untuk berlari kencang atau bertarung menyelamatkan nyawa.

III

Masalahnya, sistem biologi tubuh kita belum banyak di- update sejak zaman batu. Tubuh kita belum bisa membedakan secara persis antara ancaman dimangsa predator dengan ancaman dimarahi klien. Ketika kita stres karena beban hidup modern, kortisol tetap membanjiri aliran darah kita. Hormon ini membajak logika kita dan membisikkan pesan darurat: "Cari kalori paling tinggi, sekarang juga!" Tapi, ada satu teka-teki di sini. Mengapa tubuh kita secara spesifik menuntut makanan yang tinggi gula dan tinggi lemak? Mengapa kita tidak merasa puas dengan karbohidrat kompleks seperti ubi rebus? Dan yang paling aneh, mengapa setelah gigitan pertama burger raksasa yang berminyak itu, kita tiba-tiba merasa tenang dan aman, padahal sumber masalah kita belum selesai sama sekali?

IV

Inilah rahasia terbesarnya. Sains menemukan bahwa junk food sebenarnya berfungsi sebagai obat penenang alami bagi otak kita. Kombinasi mematikan antara lemak dan gula—sesuatu yang sangat jarang ditemukan secara bersamaan di alam liar—ternyata memicu ledakan dopamin di otak kita. Ini adalah zat kimia pengantar kebahagiaan. Namun, keajaibannya tidak berhenti di situ. Saat kita menelan makanan tinggi kalori yang disebut comfort food ini, lemak dan gula tersebut secara harfiah mengirim sinyal fisik balik ke otak untuk mematikan produksi hormon stres. Ya, teman-teman tidak salah dengar. Makanan tersebut benar-benar mengerem sumbu HPA (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal), yaitu pusat komando stres di dalam otak kita. Jadi, saat kita menyerah pada sekotak piza saat sedang patah hati atau stres berat, itu bukanlah tanda bahwa kita lemah atau tidak punya kemauan keras. Otak kita sedang melakukan self-medication atau pengobatan mandiri. Tubuh kita sekadar menjalankan program bertahan hidup purba di tengah kerasnya hutan beton modern.

V

Sekarang kita tahu kebenaran ilmiahnya. Saat tangan kita tiba-tiba tergerak membuka aplikasi food delivery di malam hari yang penuh beban, itu adalah biologi yang sedang berbicara, bukan semata-mata kelemahan moral. Tentu saja, memahami sains di balik perilaku ini bukan berarti kita jadi punya izin untuk makan junk food setiap hari. Sebaliknya, pengetahuan ini memberi kita ruang untuk bernapas dan berhenti menghakimi diri sendiri. Jika esok hari stres itu datang mencekik lagi, teman-teman bisa mengambil jeda sejenak. Tarik napas yang panjang. Beri tahu otak kita dengan lembut: "Hai, terima kasih sudah mencoba menyelamatkan saya, tapi ini cuma tumpukan pekerjaan kok, bukan harimau yang mau menerkam." Dengan menyadari pola kuno ini, kita bisa mengambil alih kembali kendali dari naluri purba kita. Kita akhirnya bisa memilih makanan kita, bukan karena dipaksa oleh hormon yang panik, melainkan karena kesadaran penuh kita yang memutuskan.